Merdekapos.com, Kampar — Riau selama ini lebih dikenal dengan bentang dataran rendah, sungai-sungai besar, kawasan gambut, serta hamparan perkebunan. Namun jauh di pedalaman Kabupaten Kampar, tersimpan lanskap berbeda yang memperlihatkan sisi lain kekayaan alam Bumi Lancang Kuning. Salah satunya adalah Gunung Djadi, kawasan pegunungan yang berada di Kecamatan Kampar Kiri Hulu.

Keberadaan Gunung Djadi menjadi menarik bukan hanya karena bentang alamnya, tetapi juga karena perjalanan panjang untuk mendokumentasikannya. Berdasarkan informasi yang dihimpun Ensiklopedia Kampar, ekspedisi menuju kawasan tersebut dilakukan pada penghujung 2011 hingga awal 2012 dan kemudian menjadi salah satu tonggak dokumentasi pegunungan di Provinsi Riau.

Ekspedisi yang berlangsung pada 29 Desember 2011 hingga 4 Januari 2012 itu bukan perjalanan ringan. Tim disebut harus menembus kawasan sekitar 18 kilometer, melewati sedikitnya 10 bukit serta tujuh anak sungai sebelum mencapai kawasan yang dianggap sebagai puncak.

Gunung Djadi diperkirakan memiliki ketinggian sekitar 1.100 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan mempunyai karakter morfologi berupa dua puncak. Letaknya berada di kawasan hulu Sungai Kampar Kiri/Subayang dan berdekatan dengan lanskap Bukit Rimbang Bukit Baling, salah satu kawasan penting dalam bentang alam Riau bagian barat.

Dokumentasi Gunung Djadi memberi perspektif baru mengenai karakter geografis Riau. Provinsi yang identik dengan dataran rendah ternyata juga memiliki bentang berbukit dan pegunungan, terutama di wilayah yang berbatasan dengan jajaran Bukit Barisan.

Keberadaan kawasan seperti Gunung Djadi sekaligus menunjukkan bahwa kekayaan Riau tidak semata-mata berada di bawah tanah dalam bentuk sumber daya mineral maupun migas. Hutan, sungai, perbukitan, keanekaragaman hayati, serta bentang alamnya merupakan modal ekologis yang tidak kalah bernilai.

Dari perspektif lingkungan, kawasan hulu seperti tempat Gunung Djadi berada memiliki arti strategis. Tutupan vegetasi di wilayah perbukitan berperan dalam menjaga tata air, mengurangi erosi, mempertahankan daerah tangkapan air, sekaligus menjadi habitat berbagai jenis flora dan fauna.

Karena itu, semakin terbukanya informasi mengenai Gunung Djadi semestinya tidak hanya dipandang sebagai peluang wisata petualangan. Dokumentasi tersebut juga dapat menjadi pintu masuk bagi penelitian mengenai keanekaragaman hayati, geologi, hidrologi, kehutanan, serta potensi ekowisata berbasis konservasi.

Laporan oleh Rene

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version