Merdekapos.com, Pekanbaru — Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) kembali menjadi sorotan di tengah ketidakpastian pasokan energi global. Dinamika geopolitik, termasuk konflik di kawasan Timur Tengah, dinilai turut memengaruhi fluktuasi harga minyak dunia yang berdampak langsung pada biaya transportasi masyarakat.
Kondisi tersebut mulai mendorong perubahan perilaku konsumen. Sejumlah masyarakat kini mempertimbangkan kendaraan listrik sebagai alternatif untuk menekan pengeluaran harian.
Berdasarkan perhitungan sederhana, biaya operasional sepeda motor berbahan bakar minyak masih tergolong tinggi. Rata-rata pengeluaran untuk BBM dan perawatan seperti servis serta penggantian oli mencapai sekitar Rp700.000 per bulan. Dalam setahun, biaya tersebut dapat mencapai Rp8,4 juta, bahkan menembus Rp42 juta dalam kurun waktu lima tahun.
Sebaliknya, kendaraan listrik dinilai lebih efisien. Untuk penggunaan harian berkisar 40 hingga 60 kilometer, biaya listrik yang dibutuhkan hanya sekitar Rp50.000 hingga Rp90.000 per bulan. Selisih biaya ini menjadi pertimbangan utama bagi konsumen dalam menentukan pilihan kendaraan.
Pengamat menilai, ketidakstabilan harga minyak global berpotensi terus berlanjut seiring situasi geopolitik yang belum sepenuhnya kondusif. Selain berdampak pada harga BBM, kondisi ini juga memengaruhi biaya perawatan kendaraan konvensional.
Di sisi lain, kendaraan listrik menawarkan keunggulan dari segi efisiensi dan perawatan. Dengan jumlah komponen yang lebih sedikit, potensi biaya servis jangka panjang dinilai lebih rendah dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil.
Selain faktor ekonomi, aspek lingkungan juga menjadi perhatian. Penggunaan kendaraan listrik dinilai mampu mengurangi emisi gas buang serta mendukung upaya penurunan polusi udara, khususnya di wilayah perkotaan.
Kepala Cabang Showroom Yadea Pekanbaru Kota, Nata Hedy Nyo, mengatakan bahwa minat masyarakat terhadap kendaraan listrik menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa waktu terakhir.
“Kami melihat adanya peningkatan minat yang cukup signifikan. Faktor utama yang mendorong adalah efisiensi biaya operasional serta semakin tersedianya layanan purna jual yang memadai,” ujarnya.
Ia menambahkan, pihaknya terus berupaya menghadirkan kemudahan bagi konsumen, mulai dari layanan instalasi pengisian daya di rumah, garansi kendaraan, hingga ketersediaan suku cadang.
Menurutnya, peralihan ke kendaraan listrik bukan lagi sekadar tren, melainkan telah menjadi kebutuhan di tengah ketidakpastian biaya energi.
Sejumlah pihak juga mendorong masyarakat untuk mulai mempertimbangkan total biaya kepemilikan atau total cost of ownership (TCO) sebelum membeli kendaraan, termasuk biaya operasional, perawatan, serta kebutuhan infrastruktur pendukung.
Dengan kondisi harga BBM yang fluktuatif, kendaraan listrik dinilai menjadi salah satu solusi yang dapat memberikan efisiensi biaya sekaligus mendukung transisi energi yang lebih bersih.



