Merdekapos.com, Jakarta – Harga emas produksi PT Aneka Tambang Tbk atau Antam mulai kehilangan momentum penguatannya setelah sebelumnya sempat melonjak tajam akibat tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Israel yang berhadapan dengan Iran.
Pada perdagangan Rabu (4/3/2026), harga emas Antam 24 karat terkoreksi Rp 77.000 per gram dan kini bertengger di level Rp 3.045.000 per gram. Penurunan ini menandai fase konsolidasi setelah reli yang cukup tinggi dalam beberapa hari terakhir.
Mengacu pada laman resmi Logam Mulia, harga emas ukuran terkecil 0,5 gram dipatok Rp 1.572.500. Sementara itu, emas 10 gram dijual Rp 29.945.000, dan ukuran terbesar 1.000 gram (1 kg) dibanderol Rp 2.985.600.000.
Secara tren, dalam sepekan terakhir harga emas bergerak fluktuatif di kisaran Rp 3.023.000 hingga Rp 3.135.000 per gram. Adapun dalam satu bulan terakhir, rentang pergerakan tercatat antara Rp 2.856.000 sampai Rp 3.135.000 per gram, mencerminkan volatilitas tinggi seiring dinamika global.
Tak hanya harga jual, nilai buyback atau harga pembelian kembali oleh Antam juga turun lebih dalam, yakni Rp 107.000 per gram menjadi Rp 2.794.000 per gram. Harga buyback merupakan acuan bagi masyarakat yang ingin menjual kembali emasnya ke Antam.
Sebagai catatan, berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 81 Tahun 2024, transaksi buyback dengan nilai di atas Rp 10 juta dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 sebesar 1,5 persen. Pajak tersebut dipotong langsung dari total nilai transaksi saat proses penjualan kembali dilakukan.
Berikut rincian harga emas Antam per Rabu (4/3/2026):
0,5 gram: Rp 1.572.500
1 gram: Rp 3.045.000
2 gram: Rp 6.030.000
3 gram: Rp 9.020.000
5 gram: Rp 15.000.000
10 gram: Rp 29.945.000
25 gram: Rp 74.737.000
50 gram: Rp 149.395.000
100 gram: Rp 298.712.000
250 gram: Rp 746.515.000
500 gram: Rp 1.492.820.000
1.000 gram: Rp 2.985.600.000
Penurunan ini menjadi sinyal bahwa pasar emas domestik mulai merespons meredanya sentimen global, meski pergerakan harga masih berpotensi dipengaruhi perkembangan geopolitik dan kondisi ekonomi dunia.
Laporan oleh Dipa



