Merdekapos.com, Jakarta — Generasi Z kini tidak lagi hanya dipandang sebagai penerus sektor pertanian, tetapi mulai dilihat sebagai penggerak utama transformasi pertanian modern. Organisasi masyarakat Projo menilai hadirnya Gen Z dengan kemampuan digital membuka babak baru pertanian nasional yang lebih efisien, inovatif, dan berkelanjutan.
Ketua Bidang Pertanian DPP Projo, Sonny Silaban, menyebut Indonesia telah memasuki era tech-savvy farming, yakni pola pertanian yang memadukan teknologi digital dengan praktik ramah lingkungan. Menurutnya, percepatan regenerasi petani menjadi kebutuhan mendesak agar ketahanan pangan nasional tetap terjaga.
“Generasi muda harus dipandang sebagai agen perubahan, bukan beban. Tanpa strategi yang tepat, kita berisiko kehilangan sumber daya manusia penting untuk inovasi dan ketahanan pangan nasional,” ujar Sonny.
Projo melihat Gen Z membawa cara pandang baru dalam bertani, mulai dari penggunaan data hingga pendekatan bisnis yang lebih adaptif. Pertanian tidak lagi identik dengan pekerjaan fisik semata, tetapi berkembang menjadi sektor berbasis teknologi dan kreativitas.
Pemanfaatan Internet of Things (IoT) disebut sebagai tulang punggung pertanian modern. Sensor tanah, drone pemantau, serta platform analitik memungkinkan petani mengelola air, pupuk, dan pengendalian hama secara lebih presisi dan real-time. Teknologi ini dinilai mampu menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan hasil panen.
Selain itu, urban farming menjadi pintu masuk yang menjanjikan bagi Gen Z, khususnya di perkotaan. Model hidroponik dan vertikultur memungkinkan produksi pangan skala kecil dengan akses pasar yang luas melalui media sosial dan platform digital. Hal ini membuka peluang karier baru di sektor pertanian yang lebih fleksibel dan menarik bagi anak muda.
Namun demikian, tantangan regenerasi petani masih cukup besar. Data Badan Pusat Statistik (BPS) periode 2024–2025 menunjukkan lebih dari 90 persen petani Indonesia berusia di atas 40 tahun. Keterlibatan Gen Z masih rendah, meski sejumlah program kewirausahaan muda telah dijalankan di berbagai daerah.
Dari sisi ekonomi, Nilai Tukar Petani (NTP) menunjukkan pemulihan yang terbatas. Kenaikan harga pupuk dan energi menekan margin keuntungan petani, sehingga sektor pertanian masih dianggap kurang menjanjikan bagi generasi muda. Akses pembiayaan mikro memang meningkat, namun persyaratan modal awal dan pendampingan teknis masih menjadi hambatan.
Faktor iklim juga memperberat tantangan. Laporan BMKG mencatat peningkatan kejadian cuaca ekstrem yang berdampak langsung pada hasil panen, terutama padi dan hortikultura. Kondisi ini memperkuat urgensi adopsi teknologi dan inovasi di sektor pertanian.
Sonny menegaskan bahwa untuk menarik minat Gen Z, diperlukan kombinasi kebijakan yang tepat.
“Insentif finansial, akses modal mikro yang mudah, dan pelatihan berbasis teknologi harus berjalan bersamaan. Teknologi tepat guna bukan hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga menjadikan bertani sebagai pilihan karier yang lebih menarik,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya perlindungan lahan pertanian dan penguatan infrastruktur logistik. Menurutnya, tanpa kepastian lahan dan rantai pasok yang andal, upaya regenerasi petani akan sulit diwujudkan secara berkelanjutan.
Projo merekomendasikan sejumlah langkah konkret, di antaranya mendorong inisiatif IoT di tingkat lokal melalui subsidi alat teknologi, memperluas program vokasi pertanian presisi, serta membuka skema hak pakai lahan jangka panjang bagi petani muda. Kemudahan kredit mikro dengan bunga rendah dan pendampingan teknis juga dinilai krusial.
Selain itu, perbaikan rantai pasok, fasilitas penyimpanan, dan akses ke pasar digital perlu dipercepat agar produk pertanian muda memiliki daya saing. Kampanye untuk membangun citra positif pertanian sebagai sektor inovatif dan bergengsi juga perlu digencarkan dengan menampilkan kisah sukses petani muda.
Projo menilai keterlibatan Gen Z akan membawa dampak jangka panjang bagi pertanian Indonesia. Inovasi teknologi dapat menekan biaya produksi, meningkatkan keberlanjutan, serta memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah risiko perubahan iklim. Di sisi lain, pertanian modern berpotensi menyerap tenaga kerja muda, mengurangi urbanisasi berlebihan, dan meningkatkan kesejahteraan desa.
Sonny Silaban menegaskan, masa depan pertanian Indonesia berada di tangan generasi muda yang dibekali teknologi, pelatihan, dan kebijakan ramah pemula. Dengan kolaborasi lintas sektor, pertanian nasional diyakini dapat tumbuh lebih inklusif, modern, dan berkelanjutan, sekaligus menjaga ketahanan pangan nasional.
Laporan oleh Dipa



