Merdekapos.com, Jakarta– Pemerintah terus mengintensifkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra dan Kalimantan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Teknologi penyemaian dry ice atau es kering dan garam mulai menunjukkan hasil positif dalam upaya mengurangi kabut asap, sementara sejumlah wilayah telah diguyur hujan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI, dan kementerian terkait mengerahkan teknologi tersebut untuk memperbaiki kondisi atmosfer, khususnya di daerah yang mengalami penumpukan asap akibat kebakaran lahan.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa penggunaan dry ice ditujukan untuk membantu mengatasi lapisan inversi atmosfer yang menyebabkan asap terperangkap di dekat permukaan bumi.
Sementara itu, penyemaian garam atau natrium klorida (NaCl) dilakukan ketika kondisi awan memungkinkan untuk mendukung pembentukan hujan.
Hasil pemantauan di Palembang, Sumatera Selatan, menunjukkan perbaikan jarak pandang setelah pelaksanaan operasi. Namun, BMKG masih melakukan evaluasi untuk memastikan efektivitas teknologi tersebut secara berkelanjutan.
BNPB melaporkan operasi modifikasi cuaca terus berlangsung di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Sumatera Selatan. Di Kalimantan Tengah, petugas telah menyemai sekitar 3,9 ton dry ice dan 800 kilogram garam melalui enam penerbangan.
Sementara itu, data BNPB hingga 19 Oktober 2026 menunjukkan bahwa dari 1.024,33 hektare area sasaran penanganan karhutla di enam provinsi prioritas, sekitar 454,25 hektare telah berhasil dipadamkan. Sisanya masih membutuhkan penanganan intensif.
Meski hujan mulai turun dan kondisi kabut asap menunjukkan perbaikan, pemerintah tetap menghadapi tantangan besar dalam memastikan kebakaran tidak kembali meluas.
Terlebih, sebagian hujan yang terjadi merupakan proses alamiah sehingga keberhasilan operasi modifikasi cuaca tetap harus dinilai berdasarkan data meteorologi dan kualitas udara.
Penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan teknologi dari udara. Pencegahan pembakaran lahan, pengawasan kawasan rawan kebakaran, perlindungan ekosistem gambut, serta penegakan hukum lingkungan tetap menjadi faktor penentu.
Keberhasilan pemerintah pada akhirnya bukan sekadar diukur dari turunnya hujan atau berkurangnya asap, melainkan dari kemampuan menghentikan kebakaran, melindungi kesehatan masyarakat, dan mencegah bencana serupa kembali terjadi.
Laporan oleh Rima

