Merdekapos.com, Jakarta – Ketegangan baru membayangi kawasan Teluk setelah sebuah drone pengintai canggih milik Angkatan Laut Amerika Serikat dilaporkan hilang kontak saat menjalankan misi di Selat Hormuz. Pesawat tanpa awak jenis MQ-4C Triton itu terakhir terpantau mengirimkan sinyal darurat sebelum menghilang dari radar.
Insiden terjadi pada 22 Februari 2026 ketika drone tersebut menjalankan misi pengintaian maritim di jalur strategis Selat Hormuz. Berdasarkan informasi awal, MQ-4C Triton lepas landas dari pangkalan di Abu Dhabi dan terbang di ketinggian sekitar 10 kilometer.
Di tengah operasi, sistem pelacakan mencatat kode darurat 7700—kode universal yang menandakan situasi darurat di penerbangan—sebelum sinyalnya terputus sepenuhnya. Sejak saat itu, drone tidak lagi terdeteksi radar.
Dengan nilai aset yang diperkirakan mencapai 220 juta dolar AS, hilangnya Triton bukan sekadar insiden teknis biasa. Drone ini merupakan tulang punggung misi ISR (Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance) Amerika Serikat untuk pemantauan maritim jarak jauh.
Sejumlah analis keamanan regional menilai ada kemungkinan gangguan elektronik atau praktik perang elektronik (electronic warfare) yang dapat melumpuhkan sistem navigasi maupun kendali jarak jauh drone.
Spekulasi mengenai potensi keterlibatan aktor asing—termasuk negara yang memiliki kemampuan jamming atau interferensi sinyal tingkat tinggi—pun beredar luas. Namun hingga kini, belum ada pernyataan resmi yang memastikan penyebab insiden tersebut.
Pihak Pentagon sendiri belum memberikan konfirmasi final mengenai apa yang sebenarnya terjadi, sehingga memunculkan berbagai spekulasi di kalangan pengamat militer internasional.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia, dilalui sebagian besar ekspor minyak global. Gangguan terhadap operasi pengintaian di kawasan ini dinilai dapat berdampak pada stabilitas keamanan maritim dan dinamika geopolitik kawasan.
Insiden ini juga memunculkan pertanyaan mengenai ketahanan sistem ISR Amerika Serikat di lingkungan berisiko tinggi, terutama dalam menghadapi potensi ancaman siber dan gangguan elektronik.
Dalam beberapa hari ke depan, koordinasi antara otoritas militer AS dan mitra regional diperkirakan akan menjadi fokus utama. Investigasi menyeluruh terhadap faktor teknis, kondisi operasional, hingga kemungkinan ancaman eksternal tengah dinantikan.
Publik internasional kini menunggu klarifikasi resmi dari Pentagon terkait dampak operasional serta langkah mitigasi yang akan diambil menyusul hilangnya salah satu drone pengintai paling canggih milik Angkatan Laut Amerika Serikat tersebut.
Laporan oleh Sony

