Merdekapos.com, Jakarta — DPP Projo menyoroti dampak El Niño sangat kuat yang tengah berlangsung di Indonesia dan berpotensi meningkatkan risiko kekeringan serta mengganggu produksi pertanian. Ketua Bidang Pertanian DPP Projo, Sonny Silaban, mendorong pemerintah memperkuat langkah antisipasi untuk menjaga petani dan ketahanan pangan nasional.

BMKG pada 22 September 2026 menyatakan El Niño berada pada intensitas sangat kuat. Lembaga tersebut memperkirakan awal musim hujan 2026/2027 mundur dari rata-rata klimatologis di 529 Zona Musim atau sekitar 61,08 persen wilayah Indonesia.

“Perubahan iklim dan El Niño harus dihadapi dengan kebijakan yang langsung menyentuh petani. Ketersediaan air, irigasi, informasi iklim dan penyesuaian kalender tanam harus dipastikan sampai ke tingkat desa agar produksi pangan tetap terjaga,” kata Sonny dalam draf pernyataan untuk pemberitaan.

Menurut Sonny, perubahan pola hujan tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga berkaitan langsung dengan produktivitas pertanian, pendapatan petani dan stabilitas pasokan pangan.

Projo mendorong pemerintah pusat dan daerah memperkuat koordinasi dengan BMKG serta kelompok tani, terutama dalam pemetaan wilayah rawan kekeringan, pengamanan sumber air pertanian dan penyampaian informasi cuaca secara cepat kepada petani.

BMKG sebelumnya juga memperkirakan El Niño dapat bertahan setidaknya hingga awal kuartal pertama 2027 dan telah mengingatkan perlunya mitigasi lintas sektor terhadap risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan.

“Petani jangan dibiarkan menghadapi perubahan iklim sendirian. Menjaga petani berarti menjaga produksi dan kedaulatan pangan Indonesia,” ujar Sonny.

Laporan oleh Rene

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version