Merdekapos.com, Pekanbaru – Aktivitas titik panas kembali terpantau di sejumlah wilayah Provinsi Riau. Berdasarkan pemantauan terbaru, ratusan hotspot terdeteksi dan tersebar di beberapa kabupaten dan kota, dengan konsentrasi tertinggi berada di Kabupaten Pelalawan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru mencatat sebanyak 113 titik panas (hotspot) terdeteksi di Provinsi Riau. Kabupaten Pelalawan menjadi daerah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni mencapai 60 titik.
Prakirawan BMKG Stasiun Pekanbaru, Sanya G, menyampaikan bahwa selain Pelalawan, sebaran titik panas juga terpantau di Kabupaten Bengkalis sebanyak 26 titik. Selanjutnya, Kabupaten Indragiri Hilir, Kota Dumai, dan Kabupaten Rokan Hilir masing-masing tercatat sembilan titik, serta satu titik berada di wilayah Kepulauan Meranti. Data tersebut merupakan hasil pemantauan hingga Rabu pukul 07.00 WIB.
“Kondisi ini perlu menjadi perhatian, seiring prakiraan cuaca di Riau yang masih didominasi cerah hingga berawan dengan potensi hujan ringan hingga sedang yang bersifat lokal,” kata Sanya G di Pekanbaru, Rabu.
Ia menjelaskan, cuaca cerah yang berlangsung cukup lama dapat menyebabkan kondisi lahan, terutama lahan gambut, menjadi lebih kering dan mudah terbakar apabila terdapat pemicu api. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, khususnya di daerah yang rawan kebakaran hutan dan lahan.
Secara keseluruhan di Pulau Sumatera, BMKG mendeteksi sebanyak 170 titik panas. Provinsi Riau menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak. Selanjutnya disusul Kepulauan Riau dan Aceh yang masing-masing mencatat 20 titik, Kepulauan Bangka Belitung sebanyak sembilan titik, Jambi tiga titik, serta Sumatera Selatan dan Sumatera Barat masing-masing satu titik.
Seiring meningkatnya temuan hotspot tersebut, Provinsi Riau mulai meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan. Memasuki awal Februari 2026, sejumlah titik api dilaporkan mulai muncul di beberapa kabupaten dan kota.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Riau mencatat sedikitnya enam kabupaten dan kota telah terdampak kebakaran hutan dan lahan. Sebagian kejadian berhasil ditangani dengan cepat, namun di beberapa lokasi petugas gabungan masih terus melakukan upaya pemadaman agar api tidak meluas.
Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Provinsi Riau, Jim Ghafur, mengatakan bahwa penetapan status siaga darurat di tingkat kabupaten dan kota memiliki peran strategis dalam mempercepat penanganan karhutla.
“Untuk menetapkan status siaga darurat karhutla di tingkat provinsi, minimal harus ada tiga daerah yang lebih dulu menetapkan status serupa,” ujar Jim Ghafur.
Ia menambahkan, BPBD Provinsi Riau terus mendorong pemerintah daerah yang rawan maupun telah terdampak karhutla agar mempertimbangkan penetapan status siaga darurat. Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat upaya pencegahan dan penanganan karhutla, terutama jika potensi kebakaran terus meningkat dalam beberapa waktu ke depan.
Laporan oleh Dipa

