Merdekapoos.com, Jakarta — Cerita “rahim copot” yang disampaikan influencer kesehatan dr Gia Pratama memicu perdebatan luas di media sosial dalam beberapa hari terakhir. Kisah yang awalnya diniatkan sebagai edukasi berdasarkan pengalaman praktik justru menimbulkan kontroversi setelah sejumlah dokter spesialis obstetri dan ginekologi (obsgyn) mempertanyakan validitasnya.
Mereka menilai bahwa secara anatomi, rahim hampir tidak mungkin “terlepas” karena ditopang oleh struktur penyangga yang sangat kuat. Kondisi medis yang paling mendekati, menurut para ahli, adalah inversio uteri (rahim terbalik) yang masih dapat dikembalikan ke posisi semula dengan penanganan yang cepat dan tepat.
Namun, muncul dari informasi yang beredar bahwa dr Gia tidak bekerja sendiri saat menangani kasus tersebut. Ia disebut didampingi seorang dokter obsgyn senior yang kala itu masih berstatus residen. Kesaksian tambahan ini membuat sebagian masyarakat semakin yakin bahwa kejadian tersebut bukan sekadar inversio uteri, melainkan kasus ekstrem di mana rahim benar-benar terlepas. Hal ini sangat jarang terjadi dalam dunia medis.
Dalam dunia medis, istilah “rahim copot” sebenarnya tidak dikenal. Yang sering menimbulkan kesalah pahaman adalah inversio uteri, ketika bagian atas rahim terbalik dan masuk ke rongga rahim, bahkan dapat menonjol keluar melalui vagina. Pada kondisi ini, rahim tidak terlepas, tetapi berubah posisi akibat tarikan atau tekanan tertentu.
Rahim ditopang oleh beberapa lapisan struktur kuat seperti ligamen, otot dasar panggul, dan jaringan ikat. Karena itu, rahim hampir mustahil terlepas sepenuhnya dari tubuh tanpa cedera ekstrem atau tarikan yang sangat kuat. Jika sampai benar-benar keluar sebagai organ yang terpisah, kondisi tersebut merupakan kejadian medis luar biasa dan amat jarang ditemukan.
Kondisi lain yang kerap disamakan adalah prolaps uteri, yaitu ketika rahim turun akibat melemahnya penyangga, tetapi masih berada dalam tubuh dan tidak sampai terlepas.
Salah satu penyebab utama komplikasi berat seperti inversio uteri adalah menarik plasenta secara paksa. Tindakan ini dapat; merobek jaringan rahim, menyebabkan perdarahan hebat, memicu syok hingga mengancam nyawa ibu.
Karena itu, standar medis mewajibkan plasenta dikeluarkan secara alami atau dengan teknik yang aman.
Ketua Umum Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), Prof Budi Wiweko, SpOG(K), mengingatkan tenaga kesehatan agar berhati-hati ketika membagikan edukasi medis di ruang publik.
“Dalam memberikan informasi, kita harus menjunjung tinggi aspek etik, profesionalisme, dan kompetensi. Edukasi itu harus bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Prof Budi, dikutip dari detikhealth, Senin (17/11/2025).
Ia menilai bahwa literasi kesehatan masyarakat harus ditingkatkan dengan informasi yang jelas agar tidak menimbulkan salah tafsir, termasuk soal isu “rahim copot”.
“Tujuannya adalah pencegahan. Jangan sampai terjadi komplikasi setelah persalinan akibat plasenta ditarik paksa. Itu berbahaya, bisa menyebabkan inversio uteri, dan berisiko kematian,” tegasnya.
Menurut Prof Budi, dokter memang berkewajiban memberikan edukasi, tetapi penyampaiannya harus dilakukan secara profesional tanpa menyudutkan pihak tertentu atau memperkeruh persepsi masyarakat.
Dalam ceritanya, dr Gia menyebut seorang suami datang ke IGD RSUD dengan membawa kantong kresek berisi organ yang diyakini sebagai rahim istrinya. Kejadian itu disebut bermula dari proses persalinan yang ditangani dukun beranak, yang menarik plasenta secara paksa. Padahal, secara normal plasenta dapat lahir sendiri tanpa intervensi agresif.
Prof Budi menjelaskan bahwa pada sebagian kecil kasus, plasenta memang bisa melekat sangat kuat seperti pada kondisi akreta, inkreta, atau perkreta sehingga membutuhkan penanganan manual atau tindakan operasi oleh dokter yang terlatih.
Selanjutnya, intervensi tanpa keahlian dapat memicu komplikasi fatal seperti inversio uteri.
“Ini kondisi yang sangat berbahaya. Bisa menyebabkan perdarahan hebat, syok, bahkan meninggal dunia,” jelasnya.
Meski demikian, Prof Budi menolak berkomentar langsung mengenai kasus yang diceritakan dr Gia karena tidak melihat kondisi pasien secara langsung. Ia menilai perdebatan publik saat ini sudah melebar dari konteks edukasi yang sebenarnya.
Prof Budi mengajak seluruh tenaga kesehatan untuk tetap menjaga profesionalisme saat memberikan informasi kepada masyarakat.
“Yang paling penting adalah keselamatan ibu. Masyarakat harus mendapat informasi yang benar, bukan yang membingungkan. Dan tugas dokter adalah memberikan itu dengan cara yang profesional,” tutupnya.
Laporan oleh Dipa

