Merdekapos.com, Jakarta – Ketua Bidang Pertanian DPP Projo, Sonny Silaban, menegaskan bahwa pemerintah perlu mempercepat langkah-langkah strategis guna melindungi sektor pertanian dari dampak krisis energi global. Pernyataan ini disampaikan menyusul kekhawatiran meningkatnya biaya produksi petani akibat tingginya ketergantungan pada bahan bakar fosil.
“Kita tidak bisa memungkiri bahwa struktur biaya pertanian kita masih sangat sensitif terhadap harga BBM. Mulai dari traktor di sawah hingga distribusi hasil panen, semuanya membutuhkan energi. Jika harga energi bergejolak, maka piring rakyat yang menjadi taruhannya,” ujar Sonny Silaban dalam keterangan tertulis di Jakarta.
Sonny menjelaskan bahwa isu ketahanan pangan saat ini tidak lagi semata-mata soal ketersediaan lahan, tetapi juga menyangkut efisiensi input produksi. Ia menyoroti kenaikan harga pupuk yang kerap terjadi akibat ketergantungan industri pupuk pada pasokan gas.
“Petani kita sering berada dalam posisi terjepit. Di satu sisi, harga input seperti pupuk dan bahan bakar terus meningkat. Di sisi lain, harga jual gabah harus tetap dijaga agar terjangkau bagi masyarakat. Ini adalah dilema yang membutuhkan solusi inovatif dan berkelanjutan,” jelasnya.
Sebagai solusi jangka panjang, DPP Projo mendorong pemerintah untuk mengintegrasikan program energi baru terbarukan (EBT) langsung ke sentra-sentra produksi pangan.
Sonny mengusulkan pembangunan desa mandiri energi dengan memanfaatkan potensi lokal, seperti energi surya dan biogas dari limbah ternak.
“Kita memiliki sinar matahari yang melimpah serta sumber energi alternatif dari limbah ternak. Jika pompa air dan alat penggilingan padi dapat digerakkan oleh energi mandiri di desa, maka ketergantungan terhadap bahan bakar fosil bisa ditekan. Inilah yang kami maksud sebagai kedaulatan pangan yang sesungguhnya,” tegasnya
Menutup keterangannya, Sonny menegaskan bahwa Projo akan terus mengawal kebijakan pemerintah agar tetap berpihak pada kesejahteraan petani, khususnya petani kecil.
Ia meyakini bahwa dengan sistem logistik pangan yang efisien dan biaya produksi yang terkendali, Indonesia mampu menghadapi ancaman krisis pangan global yang dipicu oleh ketidakpastian energi.
“Kedaulatan pangan bukan hanya soal kecukupan konsumsi, tetapi juga menyangkut harga diri bangsa. Projo berkomitmen memastikan setiap kebijakan energi tetap memberi ruang bagi sektor pertanian untuk tumbuh, mandiri, dan berdaya saing,” pungkasnya.
Laporan oleh Dipa

