Merdekapos.com, Jakarta -Bulan Ramadan kerap membuat sebagian orang mengurangi aktivitas fisik karena khawatir tubuh terasa lemas saat berpuasa. Padahal, menjaga kebugaran tetap penting agar stamina tidak menurun selama menahan lapar dan haus seharian.
Dilansir dari detikhealth, Spesialis Kedokteran Olahraga, Andhika Raspati, SpKO, menjelaskan bahwa olahraga tetap bisa dilakukan selama Ramadan dengan catatan memperhatikan waktu dan intensitas latihan.
Menurutnya, yang terpenting bukan berhenti berolahraga, melainkan menyesuaikan pola latihan dengan kondisi tubuh saat berpuasa.
“Ada beberapa timing (waktu). Yang pertama itu setelah sahur. Jadi latihan pagi boleh nggak sih? Boleh, karena keuntungannya kita habis sahur, energi masih banyak, habis makan dan minum,” jelas dr Andhika.
Pilihan Waktu Berolahraga Saat Bulan Ramadan
Ada tiga waktu yang dinilai relatif aman untuk berolahraga selama Ramadan.
1. Setelah Sahur
Latihan pagi setelah sahur menjadi salah satu opsi karena tubuh masih memiliki cadangan energi dan cairan. Namun, dr Andhika mengingatkan agar tidak memaksakan diri hingga berkeringat berlebihan.
“Pilih olahraga yang nggak keringetan, misalnya nge-gym di ruangan ber-AC. Jadi bisa dikerjain pagi-pagi habis sahur,” ujarnya.
Latihan ringan seperti peregangan, yoga, atau angkat beban dengan intensitas rendah dinilai lebih aman untuk mencegah dehidrasi.
2. Menjelang Berbuka
Waktu ini cukup populer karena dianggap lebih aman jika muncul rasa haus. Meski begitu, dr Andhika mengingatkan bahwa kadar gula darah biasanya sudah menurun setelah seharian berpuasa.
“Jangan terlalu ugal-ugalan karena gulanya sudah habis sepanjang hari nggak makan kan. Pilih yang easy-easy, seperti jalan santai atau slow jogging,” katanya.
Aktivitas low intensity dinilai cukup untuk menjaga kebugaran tanpa membebani tubuh.
3. Setelah Berbuka
Pilihan lainnya adalah berolahraga setelah berbuka. Tantangannya adalah waktu yang berdekatan dengan salat tarawih.
Menurut dr Andhika, kuncinya adalah tidak berlebihan saat berbuka. Cukup konsumsi makanan ringan atau minuman manis untuk mengembalikan energi awal, lalu beri jeda sebelum berolahraga.
“Itu supaya mengisi energi sedikit, dipakai untuk sholat Maghrib, ready latihan. Dapat setengah jam-an masih bisa,” pungkasnya.
Selain waktu, asupan nutrisi juga memegang peranan penting. Saat sahur, disarankan mengonsumsi makanan tinggi protein dan serat agar rasa kenyang bertahan lebih lama. Sementara saat berbuka, cairan tubuh perlu dikembalikan secara bertahap.
Durasi olahraga selama Ramadan pun tidak perlu terlalu lama. Latihan 20–40 menit dengan intensitas ringan hingga sedang sudah cukup untuk mempertahankan kebugaran.
Setiap orang memiliki kondisi fisik berbeda. Jika muncul gejala seperti pusing, mual, atau lemas berlebihan, olahraga sebaiknya dihentikan. Bagi yang memiliki kondisi medis tertentu, konsultasi dengan dokter sebelum berolahraga saat puasa sangat dianjurkan.
Dengan pengaturan waktu dan intensitas yang tepat, Ramadan bukan halangan untuk tetap aktif. Justru, olahraga yang terukur dapat membantu menjaga stamina, kualitas tidur, dan berat badan tetap stabil selama bulan suci.
Laporan oleh Dipa

